Muncul Daratan Baru di Perairan Aceh


Muncul Daratan Baru di Perairan Aceh, Usai Letusan, Daratan Baru Itu Muncul

Sabtu, 17 April 2010 | 14:18 WIB

muncul pulau baru di aceh

Pulau Serambi

PULAU BALAI, – Misteri di balik munculnya daratan baru berbentuk gunung di perairan Haloban, Kecamatan Pulau Banyak, Aceh Singkil, mulai agak tersibak. Warga Haloban ternyata mendengar suara letusan dahsyat dari arah laut pada Selasa (13/4) malam, baru esoknya seorang nelayan menemukan daratan baru yang menyemburkan lumpur di antara Pulau Tailana dan Madang Kati, sekitar tiga mil arah utara Haloban. Wartawan Serambi, Dede Rosadi mendapatkan informasi itu di Haloban (Pulau Tuangku), 40 mil (lima jam perjalanan naik boat) dari Kota Singkil pada Jumat (16/4) siang.

Beberapa warga Haloban yang ditanyainya, mengaku sempat mendengar suara ledakan besar dari arah laut pada Selasa (13/4) malam. Namun, saat itu tidak ada warga yang menduga ledakan itu ada kaitannya dengan fenomena munculnya daratan baru di dekat Pulau Haloban pascagempa berkekuatan 7,2 skala Richter (SR) yang terjadi sepekan sebelumnya (Rabu dini hari, 7 April 2010). “Ya, kami dengar ada suara ledakan besar dari laut, tapi kami tidak menyangka ada hubungan dengan munculnya daratan baru di antara Pulau Tailana dengan Madang Kati yang cuma tiga mil dari Haloban,” kata Anhar (40), warga Haloban. Beberapa teman Anhar, antara lain Jafril, membenarkan pengakuannya.

Dilaporkan juga bahwa dasar laut yang naik itu dapat dilihat secara kasat mata dari permukaan laut. Puncaknya hanya berjarak sekitar 3-4 meter lagi dari permukaan. Tadinya, kedalaman laut di situ mencapai 18 hingga 20 meter. Artinya, terjadi pendangkalan yang cukup signifikan hanya dalam tiga hari. Bentang daratan yang baru muncul itu berkisar antara 45-50 meter. Wartawan Serambi Dede Rosadi kemarin sore ikut menyelam di lokasi itu bersama Taufik, anggota DPRK Aceh Singkil, dan sejumlah nelayan setempat. Pada kedalaman lima meter dari permukaan laut, ia mengaku dapat menyaksikan gelembung air dan semburan lumpur campur pasir yang terus ke luar dari puncak daratan yang sekilas mirip gunung itu. Volume semburannya kecil, tapi tempat menyemburnya banyak.

Gelembung air berbusa-busa (dalam bahasa setempat turak) terus keluar dari bagian atas daratan baru itu. Lumpur campur pasir dan tanah liat (lempung) juga terus menyembur. Selain itu, dasar laut di seputaran Haloban yang, menurut nelayan setempat, lazimnya berpasir putih, kemarin terlihat sudah berganti warna menjadi kehitam-hitaman, bercampur tanah dan batu kerikil kecil dan besar. Maksimum ukurannya dua kepalan tangan orang dewasa. Bebatuan tersebut terhampar di dasar laut, tak jauh dari sekeliling daratan yang baru muncul itu. Untuk mendapatkan contoh batu di dasar laut, sangatlah sulit, karena dalam. Diperlukan nyali kuat dan pengalaman menyelam yang andal untuk berhasil mendapatkannya. Sejumlah penyelam yang menggunakan kacamata selam dan dibantu oksigen yang disalurkan melalui kompresor, di antaranya Iwan, berhasil mendapatkan sampel batu tersebut. Selain hitam, ada juga bebatuan yang berwarna kehijau-hijauan dan kekuning-kuningan.

Sementara di Pulau Haloban, beberapa kaum pria berkumpul menggunjingkan kejadian langka itu. Selain membayangkan yang seram-seram, ada juga yang berharap kalau-kalau benda-benda yang menyembur dari dasar laut itu terdapat harta karun. Hingga kemarin sore, pihak aparat keamanan juga terlihat berpatroli menggunakan boat di seputar lokasi daratan tumbuh itu. Nelayan tak ada lagi yang merapat untuk memancing di sana, karena populasi ikan yang biasanya banyak di situ kini sama sekali tak ada lagi.

Info lain yang didapat, batu-batu kerikil yang ditemukan di atas puncak semburan itu umumnya berwarna hitam dan dapat dengan mudah terbakar api. Beberapa warga bahkan menyimpan batuan tersebut, lebih-lebih yang berwarna kuning keemasan, karena mereka duga (harapkan) mengandung partikel emas. Tachsis, warga Pulau Balai yang memiliki alat GPS mengabari Serambi kemarin siang bahwa daratan tumbuh itu berada di titik koordinat 02’17’742 Lintang Utara dan 097’13’296 Bujur Timur.

Suhu panas
Sementara itu, suhu udara di Haloban, desa paling terdekat ke lokasi kejadian, seharian kemarin terasa panas. Menurut warga, kenaikan suhu udara secara drastik justu dirasakan pascamunculnya calon daratan baru itu, Rabu (14/4) lalu. Terkait fenomena langka ini, Taufik, anggota DPRK Aceh Singkil, mendesak pemerintah segera menurunkan tim ahli untuk meneliti. “Perlu segera dipastikan apakah peristiwa alam itu berbahaya atau tidak bagi manusia atau makhluk hidup lainnya di sekitarnya. Pemerintah harus segera memberi jawaban atas pertanyaan dan kegelisahan masyarakatnya,” kata politisi PDIP ini.

Beberapa warga Haloban menyesalkan sikap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Singkil yang belum juga menurunkan tim pemantau atau tim survei, padahal kejadian yang menghebohkan itu telah berlangsung tiga hari. Menurut warga, yang sudah turun ke lokasi baru setingkat Muspika Pulau Banyak.

Jangan panik
Dari Banda Aceh, Gubernur Irwandi Yusuf menyerukan agar warga Pulau Tuangku dan sekitarnya jangan panik, mengingat fenomena munculnya daratan atau bahkan gunung baru dari dasar laut, bukanlah kejadian yang luar biasa. Di beberapa tempat di Tanah Air, demikian juga di luar negeri, hal seperti itu lumrah terjadi, meski tidak sering. Munculnya semburan lumpur pascagempa juga pernah terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat, juga di selatan Pulau Timor. “Ini fenomena khas pascagempa tektonik,” ujar dokter hewan ini.

Dari gejala-gejala permulaan yang tampak, Gubernur Irwandi tak terlalu cemas pada kondisi di lokasi yang masih menyemburkan lumpur dan bebatuan itu. Sebab, ikan-ikan belum ada yang terlihat mati, warga yang datang ke lokasi itu pun tidak ada yang pingsan karena terhirup gas berbahaya. “ Begitupun, ia ingatkan warga di Pulau Banyak untuk membatasi kunjungan ke lokasi semburan itu, sebelum tim riset tiba. “Jangan dekat, jika tak ingin jadi daging rebus,” ujarnya setengah bercanda seraya menyatakan, ikan-ikan pada lari dari lokasi itu karena takut jadi ikan rebus segar.

Irwandi menyatakan telah menginstruksikan Kadis Pertambangan dan Energi Aceh untuk segera mengirim tim ke kepulauan berpenduduk 7.000 jiwa itu. “Mudah-mudahan, hari Senin sudah ada tim Distamben yang tiba di sana,” ujar Gubernur seraya berharap Distamben Aceh Singkil sebaiknya bergerak lebih awal.

Sementara itu, Wakil Gubernur (Wagub) Aceh Muhamamd Nazar mengaku minggu lalu telah menyampaikan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Menristek, Menkokesra, dan Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana (TDMRC) Aceh untuk turun memantau dan meneliti langsung ke lapangan dampak gempa-gempa besar yang terjadi di Aceh. Bahkan daerah yang banyak pulau seperti Singkil, Simeulue, dan Sabang harus dipantau secara reguler di darat maupun dari udara. Kemudian, berbagai temuan harus segera disampaikan kepada Pemerintah Aceh dan kabupaten/kota maupun kepada masyarakat luas agar semua memiliki pengetahuan ilmiah dan dapat merespons kemungkinan bencana tanpa harus panik. “Cara ini menjadi salah stau metode untuk mengurangi risiko bencana, selain publik pun mendapatkan pengetahuan,” kata Wagub. Temuan-temuan ilmiah dari sebuah riset, termasuk di bawah laut Aceh, kata Wagub, mestinya dapat pula menghasilkan teknologi dan kerarifan ilmiah yang bermanfaat bagi masyarakat.

Wah lucu juga yah, coba setiap gempa muncul pulau baru, Indonesia pasti pulaunya makin tambah banyak(squeelink-red)

source: Kompas.com

~ by squeelink on 1717/0404/2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: